Rabu, 13 Juli 2016

Cerita Si Garis

"Jalan hidup manusia itu seperti garis. Walaupun tidak lurus, suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan, atau persentuhan antara garis jalan hidup masing-masing."
(Okke 'Sepatu Merah' - Istoria da Paz)

Saya tidak dapat melupakan penggalan kalimat di atas semenjak pertama kali membacanya pada sampul halaman belakang sebuah novel yang berjudul Istoria da Paz.
Jalan hidup manusia itu memang seperti garis. Bayangkanlah ada selembar kertas putih dihadapanmu, lalu penuhilah kertas itu dengan goresan garis. Goresan garis yang dibuat oleh tangan, tanpa menggunakan bantuan penggaris. Hasilnya tidak akan pernah lurus. Tiap milimeter, bahkan mikrometer dari pergerakannya memuat karakter.
Garis-garis itu tak beraturan, meliuk, berputar, menyudut, melengkung, saling silang, menabrak, bersinggungan, berpotongan ...... Perhatikan garis-garis tersebut. Beberapa diantaranya ada yang berjajar, ada yang bersilang, ada yang terputus, ada yang bersinggungan ......

Garis bisa diibaratka sebagai jalan hidup manusia. Setiap orang memiliki jejak rekam, dimana mereka bebas menentukan kemana arahnya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa semacam ada kekuatan semesta yang turut memegang kendali.

Saat ini, atau beberapa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun yang telah berlalu, ternyata menggoreskan puluhan, ratusan, bahkan ribuan jalinan garis jalan hidup antar satu orang dengan orang yang lain. Ada banyak orang baru yang datang, mengisi hidup dan bertahan, lalu akhirnya pergi meninggalkan kehidupan kita. Ada yang sempat menjauh, tapi akhirnya kembali. Ada yang pernah dipersatukan, namun kemudian dipisahkan. Ada yang dahulu sekedar tahu, tiba-tiba saling mengenal. Ada yang telah lama berpisah, lalu kembali dipertemukan.
Wajah-wajah baru muncul dan wajah-wajah lama menghilang. Kita mengenal mereka secara ajaib dan tidak pernah tahu kapan atau berapa lama garis-garis yang telah terjalin tersebut akan tetap bertahan seperti itu.

Mereka mungkin adalah teman masa kecil kita. Cinta monyet anak tetangga sebelah. Sahabat baik. Teman sekolah. Teman kuliah. Teman sekantor. Teman satu komunitas. Teman curhat yang akhirnya menjadi kekasih atau bahkan suami atau istri kita. Gebetan yang hanya diketahui namanya dan hanya kita kagumi sosoknya dari jauh, tanpa pernah berhasil berkenalan dengannya. Teman nongkrong. Tukang jual makanan keliling yang sering lewat di depan rumah. Perempuan cantik atau pria tampan yang sering kita temui ketika sama-sama sedang makan siang. Kenalan di Facebook. Follower di sosial media. Mantan pacar. Pacar. Kenalan di Kaskus. Pembaca blog. TTM. Suami. Istri. Kakak dan adik kita. Saudara. Bahkan orang tua kita .....
Dan masih banyak orang-orang lain yang sekadar kita temui atau sempat mengisi kehidupan kita. Sebuah pertautan yang telah digariskan semesta. Semuanya berawal pasti dari 'ketidaksengajaan' yang tidak pernah direncanakan.

Meraka adalah orang-orang yang pernah atau akan atau saat ini sedang berbagi garis jalan hidup dengan kita. Mungkin ada yang goresan garisnya tidak serapat dulu. Ada yang kini garisnya sedang bersinggungan atau berjajar rapat. Atau mungkin ada yang sudah mulai menjauh?
Yang jelas, kita beruntng karena semesta menuntun kita untuk berbagi 'rel' kehidupan bersama mereka.


# Diposting untuk pertama kalinya pada 27 September 2011 via Facebook.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar