Keluarga ibarat pohon.
Anak-anak adalah buah yang dihasilkan dari pohon yang sama. Berasal dari akar yang sama. Dibesarkan di bawah naungan rindag dahan dan diberi makan oleh dedaunan.
Ketika buah telah masak, ia akan jatuh, terlepas dari dahan. Mungkin, burung-burung akan memakannya dan membawa bijinya terbang jauh, kemudian menjatuhkannya di suatu tempat. Mungkin, ia hanya jatuh menggelinding, daging buahnya mengering, terkelupas dari bijinya, dan bijinya tertimbun tanah. Mungkin juga, semesta membawanya menjauh dari sang induk, hingga ia tiba di tempat yang jauh.
Di tempatnya yang baru, bijinya tumbuh. Mengulang fase yang telah dilalui induk terdahulunya. Namun, ia tumbuh menjadi pohon yang berbeda, meskipun ia mewarisi sifat induknya. Karena apa ? Tanah, air, dan udara yang memberinya kehidupan berbeda dengan induknya.
Lalu, fase ini akan terus, terus, dan terus berulang.
Pohon ibarat keluarga.
Anak-anak dilahirkan dan dibesarkan di bawah naungan kasih sayang orang tua. Tumbuh bersama berbagi tawa dan luka. Hingga tiba saatnya, masing-masing membangun keluarga. Hidup mandiri di tempat yang baru. Beradaptasi dengan ruang dan waktu.
Ada saatnya, ikatan rasa saling memiliki sebagai sebuah keluarga akan terganti dengan rasa yang lain. Perlahan-lahan ikatan itu merenggang. Dan akhirnya terlepas.
Lalu, fase ini akan terus, terus, dan terus berulang.
*****
Saya masih ingat betul sebuah peristiwa. Saat kecil, saya sangat akrab dengan sepupu-sepupu saya. Setiap liburan lebaran, kami biasanya menginap bersama di rumah kakek - nenek. Biasanya 1 minggu penuh kami bersama. Dan setiap kali mereka berpamitan pulang, saya selalu sedih dan menangis diam-diam. Dalam hati saya bertanya, "Sampai kapan saya bisa merasakan momen kebersamaan seperti ini bersama mereka?"
Waktu berlalu dan kami semakin dewasa. Rasanya ketulusan perasaan haru yang dahulu sering mengiringi perjalanan pulang sepupu-sepupu saya, semakin lama semakin menghilang. Ketika mereka mengakhiri liburan lebaran dan pulang, saya masih sempat berbasa-basi dan mengantar mereka dengan senyum bahagia. Pertanyaan di dalam hati saya berubah menjadi "Kapan lagi saya bisa berjumpa dan berkumpul seperti ini dengan mereka?"
Mungkin pada momen liburan lebaran di tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya, pertanyaan saya akan berubah menjadi "Kapan kalian main lagi kemari?" Dan kalimat itu saya ucapkan melalui telepon.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar